Minggu, 01 Juli 2012

Kaitan Politik Dan Ekonomi, It's so USELESS


Kami tidak cukup bodoh untuk mencoba menciptakan sebuah mata uang yang dibacking oleh emas, yang memang tidak kami miliki lagi, tetapi setiap Mark yang akan kami cetak akan dibacking oleh pekerjaan dan barang yang nilainya setara… kami tertawa saat ahli finansial nasional memandang bahwa nilai dari sebuah mata uang adalah tergantung kepada emas dan sekuritas lain yang berada di ruangan besi bank.”
- Adolf Hitler -

Hello semua, postingan ini persembahan saya untuk request teman lama saya bernama Fristmon Lingkua, dia merequest kajian yang menguraikan kaitan ekonomi dan politik di Indonesia. Meski saya agak alergi jika mendengarkan atau membaca apalagi membahas “politik” tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan bernegara, politik telah menjadi bagian dari kehidupan kita.
Okay, sebenarnya saya akan berkata semua sistem politik akan sama saja pengaruhnya terhadap masyarakat jika sistem keuangannya masih memeluk “money debt system”. Sedikit kata2 dari Adolf Hitler diatas sengaja saya tuliskan di awal untuk anda menilai kembali sistem keuangan yang ada sekarang didunia. Bahkan untuk Bank Syariah sendiri.  Sebelumnya bagi mereka yang kurang paham saya akan mengemukakan definisi 2 dasar dari politik yang diterima oleh para negarawan

§  politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
§  politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
§  politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
§  politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Indonesia memiliki konsep Politik Demokrasi Perwakilan, yang seperti anda tahu bahwa dalam sistem ini kita memiliki asas-asas tertentu yaitu
1.    Kedaulatan rakyat;
2.    Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
3.    Kekuasaan mayoritas;
4.    Hak-hak minoritas;
5.    Jaminan hak asasi manusia;
6.    Pemilihan yang bebas dan jujur;
7.    Persamaan di depan hukum;
8.    Proses hukum yang wajar;
9.    Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
10. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
11. Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.
Saya rasa beberapa asas dari sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia tidak dapat dipenuhi secara keseluruhan.
Dalam setiap sistem politik yang paling diutamakan bukan hanya tentang kekuasaan melainkan keadilan dan kesejahteraan yang sangat berkaitan dengan kegiatan ekonomi rakyatnya. Dalam UUD, sistem ekonomi kita menganut Sistem Ekonomi Demokrasi, atau juga bisa disebut Sistem Ekonomi Pancasila yang pada kenyataannya tidak seperti itu. Kembali lagi dari awal bahwa karna sistem keuangan negara ini masih menganut money debt system. Nah dalam kebijakan politik demokrasi pancasila ini, telah dijelaskan batas yang jelas antara kekuasaan pemerintah dan kekuasaan rakyat. Bahwa “hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak di kendalikan atau dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat atau bahkan sebenarnya melindunginya dari keserakahan segelintir orang yang kapitalis”.
Sayangnya politik kita sangat tidak menjamin korupnya sistem itu sendiri, sehingga banyak kebijakan dan keputusan dalam negara kita ini yang semustinya melindungi dan mensejahterakan rakyat malah membuat rakyat menderita. Mengapa? Karna seperti kebanyakan negara lainnya segala sesuatu dlam keputusan pemerintah sangat dipengaruhi oleh sistem keuangan atau orang yang memegang kendali sistem tersebut dalam kata lain Bankir-Bankir dunia.

"Saya tidak peduli siapa boneka yang akan diangkat menjadi Raja Inggris. Orang yang mengendalikan suplai uang di Inggris adalah orang yang mengendalikan Kerajaan Inggris, dan sayalah yang mengendalikan suplai uang Inggris"
- Nathan Mayer Rothschild, 1815 –

Itulah mengapa saya merasa menuliskan kaitan politik dan ekonomi sangatlah sia-sia. Dahulu manusia menciptakan pemerintah untuk bisa berurusan dengan para bankir, namun yang terjadi smakin lama pemerintah malah dikuasai oleh bankir. Tak terkecuali di Indonesia, dimana elit politiknya sangat minim pengetahuan tentang sistem keuangan yang kita anut. Dan jika kita menjadi seperti Adolf Hitler maka yang terjadi seluruh dunia yang digerakan oleh para bankir akan memusuhi Indonesia, dan kita tidak mau menjadi sasaran tembak terhadap hal itu bukan? Apakah anda siap berperang?
Berikut beberapa kutipan yang saya letakan untuk menjawab request teman saya, meskipun agak pesimistis bagaimana kebijakan politik di Indonesia ini dapat mengatasi banyaknya permasalahan di sektor ekonomi yang sangat terpengaruh oleh sistem keuangan global

Biarkan saya yang mengontrol uang sebuah negara, maka saya tidak peduli siapa yang menulis hukum di negara tersebut.”
- Mayer Amchel Rothschild. 1790 –


Bila pemerintah tergantung pada para bankir untuk mendapatkan uang, maka bankirlah dan bukan pemerintah yang sedang memegang kendali. Tangan yang memberi di atas tangan yang menerima. Uang tidak mengenal nasionalisme, para bankir tidak memiliki patriotisme, satu-satunya tujuan mereka adalah keuntungan.”
- Napoleon Bonaparte, 1800 –

Bila rakyat Amerika mengizinkan perbankan swasta untuk mengontrol uang dari mereka, pertama-tama lewat inflasi dan kemudian dengan deflasi, bank-bank dan korporasi yang mengelilinginya akan memisahkan rakyat Amerika dari properti mereka, sampai suatu hari anak-anak mereka akan bangun dari tidur tanpa rumah di atas tanah yang ditaklukkan oleh leluhur mereka.”
- Thomas Jefferson, Presiden Amerika, 1802 –


Pemerintahlah yang seharusnya mencetak dan mengedarkan uang sesuai dengan kemampuan belanja dari pemerintah dan daya beli dari masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip ini, rakyat bisa dibebaskan dari bunga pajak yang sangat memberatkan. Uang akan menjadi pelayan manusia, bukan majikannya.”
- Abraham Lincoln, Presiden Amerika, 1862, menerbitkan dolar greenbacks, uang bukan hutang kepada bank sentral, mati ditembak 1865 –


Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan… dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah untuk dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang di atas, Anda tak perlu diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi.”
- James Garfield, Presiden Amerika, 1881, mati ditembak –


Di satu sisi ada sekelompok orang yang memegang kekuasaan karena mereka memiliki kekayaan besar, yang mengendalikan semua pekerja dan perdagangan, yang memanipulasi untuk kepentingan pribadi semua suplai uang, yang bahkan lebih berpengaruh daripada pemerintah sendiri, di sisi yang lain ada sekelompok besar lainnya yang tidak berdaya dan hidup menderita. Bunga pinjaman (riba), yang sudah berkali-kali dilarang oleh Gereja, masih dipraktekkan hari ini walaupun dengan bentuk yang berbeda, supaya sekelompok kecil orang kaya bisa mendapatkan keuntungan dari orang miskin yang hidup hanya sedikit lebih baik dibanding seorang budak.
- Paus Leo XIII, 1898 –


Kecuali kami mendapatkan hak pendirian Bank Sentral dengan kendali kredit yang kuat, bila tidak negara ini akan menjalani penderitaan dan kepanikan finansial terbesar dalam sejarahnya.”
- Jacob Schiff, 1907 –


Kita telah menjadi salah satu pemerintahan terburuk yang ada dalam peradaban, bukan lagi pemerintahan yang memiliki kebebasan berpendapat, bukan lagi pemerintahan yang dijalankan oleh mayoritas suara, tetapi sebuah pemerintahan yang didominasi oleh sekelompok kecil orang. Sebagian orang-orang besar di Amerika, di dunia perdagangan dan manufaktur, sedang takut akan sesuatu. Mereka tahu ada sebuah kekuatan yang begitu terorganisir, begitu tak terlihat, begitu rumit, yang mana mereka sebaiknya tidak bicara terlalu keras kalau ingin mengutukinya.
- Woodrow Wilson, Presiden Amerika, 1916 –


Para bankir Internasional dan Standard Oil Rockefeller mengendalikan mayoritas surat kabar dan mereka mengusir para pegawai yang menolak bersekongkol untuk menutupi korupsi dan kekuatan tak terlihat mereka di pemerintahan.”
- Theodore Roosevelt, Presiden Amerika, 1919 -


Pendirian sebuah bank sentral adalah 90% dari usaha mengkomuniskan sebuah negara.”
- Vladimir Lenin, 1919 -


Bila sebuah negara bisa menerbitkan surat hutang, maka dia juga bisa menerbitkan mata uang. Elemen yang membuat sebuah surat hutang baik, juga akan membuat mata uangnya baik… Benar-benar gila mengatakan sebuah negara bisa menerbitkan 30 juta dolar surat hutang tetapi tidak boleh menerbitkan 30 juta dolar mata uang. Dua-duanya adalah janji untuk membayar, tetapi yang satu menguntungkan si pemberi riba, satunya lagi menguntungkan rakyat banyak.”
- Thomas Alfa Edison, salah satu penemu terbesar abad XX, 1921 –


Penguasa sebenarnya dari Republik ini adalah Standard Oil Rockefeller bersama sekelompok kecil bankir internasional. Kelompok ini menjalankan pemerintahan Amerika demi kepentingan pribadi mereka. Mereka mengontrol kedua belah partai politik, menulis platform politik, dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin… Mereka mengontrol mayoritas surat kabar dan majalah di negeri ini.
- John Hylan, Walikota New York, 1922 –


Saya manusia yang paling tidak bahagia di dunia. Saya secara tak sengaja telah menghancurkan negaraku.”
- Woodrow Wilson, mengenai keputusannya mensahkan bank sentral Federal Reserve 11 tahun sebelumnya, 1924 –


Inggris adalah budak dari kekuatan finansial internasional.
- David Lloyd, Mantan Perdana Menteri Inggris, 1934 –



Kami tidak cukup bodoh untuk mencoba menciptakan sebuah mata uang yang dibacking oleh emas, yang memang tidak kami miliki lagi, tetapi setiap Mark yang akan kami cetak akan dibacking oleh pekerjaan dan barang yang nilainya setara… kami tertawa saat ahli finansial nasional memandang bahwa nilai dari sebuah mata uang adalah tergantung kepada emas dan sekuritas lain yang berada di ruangan besi bank.”
- Adolf Hitler -
Hello semua, postingan ini persembahan saya untuk request teman lama saya bernama Fristmon Lingkua, dia merequest kajian yang menguraikan kaitan ekonomi dan politik di Indonesia. Meski saya agak alergi jika mendengarkan atau membaca apalagi membahas “politik” tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan bernegara, politik telah menjadi bagian dari kehidupan kita.
Okay, sebenarnya saya akan berkata semua sistem politik akan sama saja pengaruhnya terhadap masyarakat jika sistem keuangannya masih memeluk “money debt system”. Sedikit kata2 dari Adolf Hitler diatas sengaja saya tuliskan di awal untuk anda menilai kembali sistem keuangan yang ada sekarang didunia. Bahkan untuk Bank Syariah sendiri.  Sebelumnya bagi mereka yang kurang paham saya akan mengemukakan definisi 2 dasar dari politik yang diterima oleh para negarawan
§  politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
§  politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
§  politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
§  politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Indonesia memiliki konsep Politik Demokrasi Perwakilan, yang seperti anda tahu bahwa dalam sistem ini kita memiliki asas-asas tertentu yaitu
1.    Kedaulatan rakyat;
2.    Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
3.    Kekuasaan mayoritas;
4.    Hak-hak minoritas;
5.    Jaminan hak asasi manusia;
6.    Pemilihan yang bebas dan jujur;
7.    Persamaan di depan hukum;
8.    Proses hukum yang wajar;
9.    Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
10. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
11. Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.
Saya rasa beberapa asas dari sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia tidak dapat dipenuhi secara keseluruhan. Dalam setiap sistem politik yang paling diutamakan bukan hanya tentang kekuasaan melainkan keadilan dan kesejahteraan yang sangat berkaitan dengan kegiatan ekonomi rakyatnya. Dalam UUD, sistem ekonomi kita menganut Sistem Ekonomi Demokrasi, atau juga bisa disebut Sistem Ekonomi Pancasila yang pada kenyataannya tidak seperti itu. Kembali lagi dari awal bahwa karna sistem keuangan negara ini masih menganut money debt system. Nah dalam kebijakan politik demokrasi pancasila ini, telah dijelaskan batas yang jelas antara kekuasaan pemerintah dan kekuasaan rakyat. Bahwa “hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak di kendalikan atau dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat atau bahkan sebenarnya melindunginya dari keserakahan segelintir orang yang kapitalis”.
Sayangnya politik kita sangat tidak menjamin korupnya sistem itu sendiri, sehingga banyak kebijakan dan keputusan dalam negara kita ini yang semustinya melindungi dan mensejahterakan rakyat malah membuat rakyat menderita. Mengapa? Karna seperti kebanyakan negara lainnya segala sesuatu dlam keputusan pemerintah sangat dipengaruhi oleh sistem keuangan atau orang yang memegang kendali sistem tersebut dalam kata lain Bankir-Bankir dunia.
"Saya tidak peduli siapa boneka yang akan diangkat menjadi Raja Inggris. Orang yang mengendalikan suplai uang di Inggris adalah orang yang mengendalikan Kerajaan Inggris, dan sayalah yang mengendalikan suplai uang Inggris"
- Nathan Mayer Rothschild, 1815 –

Itulah mengapa saya merasa menuliskan kaitan politik dan ekonomi sangatlah sia-sia. Dahulu manusia menciptakan pemerintah untuk bisa berurusan dengan para bankir, namun yang terjadi smakin lama pemerintah malah dikuasai oleh bankir. Tak terkecuali di Indonesia, dimana elit politiknya sangat minim pengetahuan tentang sistem keuangan yang kita anut. Dan jika kita menjadi seperti Adolf Hitler maka yang terjadi seluruh dunia yang digerakan oleh para bankir akan memusuhi Indonesia, dan kita tidak mau menjadi sasaran tembak terhadap hal itu bukan? Apakah anda siap berperang?
Berikut beberapa kutipan yang saya letakan untuk menjawab request teman saya, meskipun agak pesimistis bagaimana kebijakan politik di Indonesia ini dapat mengatasi banyaknya permasalahan di sektor ekonomi yang sangat terpengaruh oleh sistem keuangan

Di Amerika kami menerbitkan uang kami sendiri. Kami menyebutnya Colonial Scrip. Kami menerbitkannya sesuai dengan proporsi permintaan dari perdagangan dan industri yang memproduksi semua barang dari produsen ke konsumen. Dengan mengendalikan mata uang kami sendiri, kami mengendalikan daya beli mata uang kami, dan kami tidak berhutang kepada siapapun.”
- Benjamin Franklin, salah satu Bapak kemerdekaan Amerika, 1764–


Biarkan saya yang mengontrol uang sebuah negara, maka saya tidak peduli siapa yang menulis hukum di negara tersebut.”
- Mayer Amchel Rothschild. 1790 –


Bila pemerintah tergantung pada para bankir untuk mendapatkan uang, maka bankirlah dan bukan pemerintah yang sedang memegang kendali. Tangan yang memberi di atas tangan yang menerima. Uang tidak mengenal nasionalisme, para bankir tidak memiliki patriotisme, satu-satunya tujuan mereka adalah keuntungan.”
- Napoleon Bonaparte, 1800 –


Bila rakyat Amerika mengizinkan perbankan swasta untuk mengontrol uang dari mereka, pertama-tama lewat inflasi dan kemudian dengan deflasi, bank-bank dan korporasi yang mengelilinginya akan memisahkan rakyat Amerika dari properti mereka, sampai suatu hari anak-anak mereka akan bangun dari tidur tanpa rumah di atas tanah yang ditaklukkan oleh leluhur mereka.”
- Thomas Jefferson, Presiden Amerika, 1802 -


Saya tidak peduli siapa boneka yang akan dipilih menjadi Raja Inggris untuk memimpin kekaisaran yang mana mataharinya tidak pernah terbenam. Orang yang mengontrol suplai uang Inggris mengendalikan kekaisaran Inggris, dan sayalah yang mengontrol suplai uang Inggris.”
- Nathan Mayer Rothschild, 1815 -


Kalian (bankir internasional) para penjahat busuk, saya akan mengusir kalian, demi Tuhan, saya akan mengusir kalian.
- Andrew Jackson, Presiden Amerika, 1833


Bila anak-anaku tidak menginginkan perang, maka tidak akan terjadi perang.”
- Gutle Schnaper, Ibu dari Rothschild bersaudara, 1849 -


Sejak saya bertugas di sini, saya mulai menyadari ternyata pemerintah tidak berkuasa atas masalah finansial. Mereka memang tidak direncanakan untuk berkuasa, pekerjaan sebenarnya mereka adalah melindungi dan menutupi “Kekuatan Kaya.”"
- William Gladstone, Perdana Menteri Inggris, 1852 –


Pemerintahlah yang seharusnya mencetak dan mengedarkan uang sesuai dengan kemampuan belanja dari pemerintah dan daya beli dari masyarakat. Dengan mengadopsi prinsip ini, rakyat bisa dibebaskan dari bunga pajak yang sangat memberatkan. Uang akan menjadi pelayan manusia, bukan majikannya.”
- Abraham Lincoln, Presiden Amerika, 1862, menerbitkan dolar greenbacks, uang bukan hutang kepada bank sentral, mati ditembak 1865 –


Siapa yang mengendalikan volume uang di sebuah negara adalah tuan sebenarnya dari industri dan perdagangan… dan ketika Anda sadar bahwa keseluruhan sistem ini sebenarnya mudah untuk dikendalikan, oleh sekelompok kecil orang di atas, Anda tak perlu diberitahu lagi dari mana datangnya periode deflasi dan depresi.”
- James Garfield, Presiden Amerika, 1881, mati ditembak –


Di satu sisi ada sekelompok orang yang memegang kekuasaan karena mereka memiliki kekayaan besar, yang mengendalikan semua pekerja dan perdagangan, yang memanipulasi untuk kepentingan pribadi semua suplai uang, yang bahkan lebih berpengaruh daripada pemerintah sendiri, di sisi yang lain ada sekelompok besar lainnya yang tidak berdaya dan hidup menderita. Bunga pinjaman (riba), yang sudah berkali-kali dilarang oleh Gereja, masih dipraktekkan hari ini walaupun dengan bentuk yang berbeda, supaya sekelompok kecil orang kaya bisa mendapatkan keuntungan dari orang miskin yang hidup hanya sedikit lebih baik dibanding seorang budak.
- Paus Leo XIII, 1898 –


Kecuali kami mendapatkan hak pendirian Bank Sentral dengan kendali kredit yang kuat, bila tidak negara ini akan menjalani penderitaan dan kepanikan finansial terbesar dalam sejarahnya.”
- Jacob Schiff, 1907 –


Kita telah menjadi salah satu pemerintahan terburuk yang ada dalam peradaban, bukan lagi pemerintahan yang memiliki kebebasan berpendapat, bukan lagi pemerintahan yang dijalankan oleh mayoritas suara, tetapi sebuah pemerintahan yang didominasi oleh sekelompok kecil orang. Sebagian orang-orang besar di Amerika, di dunia perdagangan dan manufaktur, sedang takut akan sesuatu. Mereka tahu ada sebuah kekuatan yang begitu terorganisir, begitu tak terlihat, begitu rumit, yang mana mereka sebaiknya tidak bicara terlalu keras kalau ingin mengutukinya.
- Woodrow Wilson, Presiden Amerika, 1916 –


Para bankir Internasional dan Standard Oil Rockefeller mengendalikan mayoritas surat kabar dan mereka mengusir para pegawai yang menolak bersekongkol untuk menutupi korupsi dan kekuatan tak terlihat mereka di pemerintahan.”
- Theodore Roosevelt, Presiden Amerika, 1919 -


Pendirian sebuah bank sentral adalah 90% dari usaha mengkomuniskan sebuah negara.”
- Vladimir Lenin, 1919 -


Bila sebuah negara bisa menerbitkan surat hutang, maka dia juga bisa menerbitkan mata uang. Elemen yang membuat sebuah surat hutang baik, juga akan membuat mata uangnya baik… Benar-benar gila mengatakan sebuah negara bisa menerbitkan 30 juta dolar surat hutang tetapi tidak boleh menerbitkan 30 juta dolar mata uang. Dua-duanya adalah janji untuk membayar, tetapi yang satu menguntungkan si pemberi riba, satunya lagi menguntungkan rakyat banyak.”
- Thomas Alfa Edison, salah satu penemu terbesar abad XX, 1921 –


Penguasa sebenarnya dari Republik ini adalah Standard Oil Rockefeller bersama sekelompok kecil bankir internasional. Kelompok ini menjalankan pemerintahan Amerika demi kepentingan pribadi mereka. Mereka mengontrol kedua belah partai politik, menulis platform politik, dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin… Mereka mengontrol mayoritas surat kabar dan majalah di negeri ini.
- John Hylan, Walikota New York, 1922 –


Saya manusia yang paling tidak bahagia di dunia. Saya secara tak sengaja telah menghancurkan negaraku.”
- Woodrow Wilson, mengenai keputusannya mensahkan bank sentral Federal Reserve 11 tahun sebelumnya, 1924 –


Inggris adalah budak dari kekuatan finansial internasional.
- David Lloyd, Mantan Perdana Menteri Inggris, 1934 –
Kekuatan dari kapitalisme finansial memiliki sebuah rencana yang lebih jauh, yaitu menciptakan sebuah sistem finansial dunia yang dikendalikan oleh tangan swasta yang mana orang-orang ini juga dapat mendominasi sistem politik dan ekonomi dari setiap negara secara keseluruhan. Sistem ini akan dikendalikan dengan model feodal oleh bank sentral di seluruh dunia yang menjalankan rencana ini secara bersama-sama. Setiap bank sentral… berencana untuk mendominasi pemerintahannya lewat kemampuannya untuk mengendalikan pinjaman, memanipulasi nilai tukar, mempengaruhi tingkat aktivitas perekonomian, dan mempengaruhi para politisi kooperatif dengan memberikan imbalan ekonomi di dunia bisnis.”
- Carrol Quigley, Sejarahwan, mentor Bill Clinton di kemudian hari, 1975 –


Sistem perbankan modern menciptakan uang tanpa modal. Proses ini kemungkinan adalah ciptaan paling luar biasa yang pernah ditemukan. Perbankan dilahirkan dalam ketidaksetaraan dan dosa. Bankir memiliki dunia. Anda bisa mengambil apapun dari mereka, tetapi biarkan hak untuk menciptakan uang di tangan mereka, maka dengan sebatang pena mereka akan menciptakan cukup uang untuk membeli semuanya kembali… Ambillah kekuasaan besar ini dari tangan mereka maka semua kekayaan besar seperti yang saya miliki akan lenyap, dan akan ada sebuah dunia yang lebih baik untuk hidup. Tetapi bila Anda ingin terus menjadi budak dari bank dan membayar harga dari perbudakan, biarkanlah para bankir terus menciptakan uang dan mengontrol kredit.
- Sir Josiah Stamp, Direktur Bank of England, 1941 –


Kita akan memiliki Pemerintahan Dunia, tidak masalah Anda suka atau tidak. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah Pemerintahan Dunia ini akan dicapai lewat penaklukkan atau persetujuan.
- Paul Warburg, bankir internasional, 1950 -


Petinggi di kantor kepresidenan telah digunakan sebagai basis untuk menghancurkan kebebasan rakyat Amerika, dan sebelum saya meninggalkan kantor ini, saya harus menginformasikan rakyat akan hal ini.”
- J.F. Kennedy, Presiden Amerika, menerbitkan silver dolar, uang bukan kredit dan mendatangani Executive Order 11110 untuk mencabut hak Federal Reserve untuk mencetak uang sebagai hutang kepada publik Amerika, mati ditembak 1963 –


Siapa mengendalikan bahan pangan, dialah yang mengendalikan manusia. Siapa mengendalikan minyak, dialah yang mengendalikan benua. Siapa mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan dunia.
- Henry Kissinger, 1974 -


Kami sangat berterima kasih kepada Washington Post, New York Times, majalah Time, dan penerbit-penerbit besar lain yang Direkturnya telah menghadiri pertemuan-pertemuan kami dan menepati janji mereka selama 40 tahun terakhir. Akan menjadi hal yang mustahil bagi kita untuk mengembangkan rencana kami di dunia, bila kita mendapatkan sorotan dari publik selama tahun-tahun ini.
- David Rockefeller, 1991 –

Nah my Friend Fristmon Lingku anda lihat betapa pesimisnya saya, heheh benar sekali. Contoh besar adalah jika negara kita defisit dalam anggarannya, darimanakah negara ini menutup defisitnya? Yaitu dari hutang dalam dan luarnegeri dimana ada bunganya. Jika dari luar negeri tentu Dolar Amerika sedangkan yang punya hak mencetak Dolar adalah Amerika. Dimana jika tidak ada peminjam baru berarti uang yang beredar konstan atau tetap, yang berarti kita memperebutkan sumber daya dari negara-negara lain untuk bisa melunasi hutang beserta bunganya, sehingga kebijakan politik apapun yang kita gunakan sekarang namun jika ujungnya masih menggunakan sistem keuang seperti sekarang, hal itu tidak akan mengubah kehidupan ekonomi di negara ini. Selamat berpikir saudaraku.

(jika ada pertanyaan, saran dan kritik jangan sungkan2 untuk bertanya di FB saya melalui pesan. Thanks a lot…)

Senin, 25 Juni 2012

Sistem Ekonomi dan Keuangan


Ketemu lagi dalam tag ekonomi, posting kali ini aku tujukan pada orang-orang yang masih membanding-bandingkan antara ekonomi liberal/kapitalis, sosialis dan syariah. Banyak paham-paham yang beredar di kalangan tertentu tentang kelebihan dan kekurangan dari setiap aspek masing-masing paham ekonomi tersebut. But dalam postingan kali ini saya tidak akan membahas secara spesifik sistem tersebut, karna akan membuat kebosanan. Disini saya akan membuka apa resiko dari setiap sistem ekonomi yang diambil.
Pertama inflasi dan deflasi. Dalam sistem ekonomi liberal/kapitalis dan syariah hal ini pasti akan terjadi. Kenapa? Karna masih mengutamakan sebuah nilai utama, entah itu emas atau uang kertas. Perbedaannya hanyalah dalam definisi “riba”. Tentu dari kalangan syariah menolak keras anggapan ini. Tapi saya akan berkata dalam syariah sendiri terdapat resiko terjadinya kapitalisme. Mengapa? Gampang sekali karna jumlah emas itu tetap sedangkan jumlah manusia dan kebutuhan akan bertambah banyak. Nah sementara itu nilai segala sesuatu dipatok terhadap emas atau perak yang tidak akan bertambah dengan sendirinya. Dan juga apakah dalam ekonomi syariah tidak akan muncul sebuah otoritas keuangan, tentunya ada. Setiap ada otoritas keuangan seperti ini, pasti yang kita sebut inflasi dan deflasi selalu menjadi masalah utama. Mungkin pada tahap awal hal ini berjalan lancar namun dengan bertambahnya umat manusia dan kebutuhan hidup, apakah otoritas tersebut bisa menyediakan cukup banyak emas dan perak untuk setiap orang????
Kedua mekanisme keluarnya uang dalam masyarakat, sekalipun jika Bank Indonesia berubah menjadi Bank Syariah Indonesia tetap saja anda harus bertanya-tanya bagaimanakah mekanisme bank tersebut bisa mengeluarkan uang di masyarakat? Dalam postingan ekonomi  yang pertama kita tahu bahwa bank mengeluarkan uangnya dalam bentuk pinjaman, dimana sistemnya dibangun dengan sistem riba namun jumlah uang yang beredar adalah konstan, sehingga untuk bisa memenuhi syarat bunganya sendiri harus ada peminjam baru setiap waktunya agar ada uang baru yang meluncur di masyarakat tentunya dengan bunga. Nah meskipun bank syariah tidak menggunakan sistem Riba, bagaimanakhn penyaluran uang tersebut pada masyarakat? Apakah dengan cara pinjaman juga, tapi dengan akad mudharabah? Tapi apa yang dibeli ya?, lagian bagaimana orang tersebut dapat membayar selisih margin yang telah disepakati dengan pihak bank syariah sementar jumlah uang yang dikeluarkan, ya hanya seharga rumah tersebut? Apakah harus dibayar dengan kambing? Tapi untuk apa bank syariah mengumpulkan begitu banyak kambing, wong bank punya banyak emas dan perak? Atau mungkin sang peminjam harus mencari emas dan peraknya sendiri? Wah dalam aturan main bank syariah pun pasti anda dilarang untuk membuat uang sendiri, lagian kalau punya emas dan perak mending gak usah minjam. Inilah yang tidak diperhatikan oleh para ekonom syariah, meskipun dalam sistem ini ada kelebihan tidak adanya riba, namun sentranya tetap sama yaitu mekanisme dibuat atau dicetaknya uang oleh bank sentral.
Ketiga keadilan sosial, dalam setiap aspek sitem keuangan dan ekonomi hal inilah yang patut diperhatika, pada saat dideklarasikannya sistem ekonomi kapitalis/liberal karna ada permasalahan yang harus dipecahkan bahwa para bangsawan selalu hidup mewah diatas penderitaan rakyat biasa. Atau bisa dibilang oligopoli. Kemudian setelah kapitalis muncul malah terlihat ketimpangan yang juga terus terjadi maka munculah sistem ekonomi sosialis dimana harus ada pemerataan dalam bentuk kesatuan kelompok. Hal ini sangat bagus, tapi menjadi tidak bagus ketika segala sesuatu harus diatur oleh tangan dingin pemerintah yang dimana akan ada perebutan kekuasaan atas kendali pemerintahan itu sendiri. Nah sebenarnya ekonomi syariah berdiri ditengah sistem ini namun tidak memiliki sebuah titik tegas dalam pendefinisian dan implikasinya. Masalah keadilan ini adalah sesuatu yang sangat sensitif dalam setiap sistem ekonomi, karna pada dasarnya manusia adalah manusia yang sangat tidak adil, setiap dari kita pasti menginginkan hal yang lebih dari orang lain. Setiap orang akan berlomba untuk menjadi tuan dari yang lain.
Nah tentu akan muncul dipermukaan kenapa tidak sistem ekonomi pancasila? Gampang saja sih, jika anda benar-benar ingin menggunakan sistem ini, apakah anda benar siap-siap kehilangan semua yang anda miliki untuk kepentingan kelompok? Pada dasarnya sistem ini menganut sistem ekonomi sosialis, itulah mengapa dulu Soekarno menggerakan ideologi NASAKOM. Ideologi ini sebenarnya tidak bertentangan satu sama lain jika kita benar-benar mengesampingkan perbedaan persepsi kita tentang Tuhan. Baik nasionalis, agama, dan komunis sama-sama ingin kesejahteraan yang sifatnya merata dan adil. Tapi dalam ideologi ini segala sesuatu harus berdasarkan kepentingan kelompok, bahwa meskipun tukang sapu di jalanan akan mendapatkan penghasilan yang sama dengan mereka yang menanam padi di sawah. Adil? Menurut saya tidak.
Sebuah kesalahan terbesar dalam keempat sistem ekonomi ini yaitiu menganggap pasar adalah sesuatu yang rasional. Sebaliknya saya sependapat dengan George Soros bahwa pasar adalah irasional. Mengapa? pasar terjadi akibat adanya aktivitas manusia yang lebih sering irasional dalam memutuskan sesuatu. Nah bergerak dalam hal itu tentu kita juga memerlukan sistem yang dinamis. Dalam hal ini saya mengacungkan dua jempol pada salah satu orang yang paling menakutkan bagi kaum Yahudi, Adolf Hitler.
Terlepas dari kebanyakan catatan merahnya, Hitler adalah penggagas sistem keuangan yang luar biasa. Itulah mengapa rakyat Jerman sangat terpesona dengan apa yang dikatakan olehnya. Tidak dapat disangkal Hitler membangun kembali kejayaan Jerman dalam tempo yang cepat dari hiperinflasi yang terjadi. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan perspektif yang adil dari dirinya. Memang benar orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat berperan dalam mekanisme keuangan dunia, namun bukan berarti setiap orang Yahudi harus menanggung kesalahan yang sama.
Btw sebenarnya sistem ini telah terjadi lebih dulu di Rusia oleh Stalin, dan berhasil dirobohkan oleh kekuatan bankir yang menyokong Hitler. Namun, yang tidak dipikirkan oleh para bankir sebelumnya bahwa sebenarnya Hitler sendiri lebih berbahaya dari Stalin. Hinga dibutuhkan dua kekuatan besar yaitu kapitalis dan komunisme untuk menghentikan sebuah sistem yang akan menghancurkan sistem yang dibangun oleh para Bankir.
Tahukah anda apa yang dilakukan oleh Hitler hingga ia menjadi musuh nomer satu oleh seluruh dunia? Diktator? Bengis? Kejam? Rasis? Ya, tapi alasan utamanya adalah ia menghapuskan sistem debt money dalam kebijakan keuangannya. Seperti kita ketahui bahwa uang kertas dicetak berdasarakan sebuah acuan tertentu yaitu emas. Dimana setiap kali Bank mengeluarkan uang tersebut dalam bentuk pinjaman beserta bunganya. Nah Jerman pada saat itu telah bangkrut dimana persediaan emas mereka habis untuk membayar kerusakan perang dunia pertama. Uang kertas mereka menjadi tidak berharga, sebuah gerobak penuh dengan uang bahkan tidak akan mampu membeli sebungkus roti dingin. Dan sebuah revolusi terjadi,  Hitler tidak mencetak uang dari persediaan emas, melainkan dari setiap keringat orang-orang Jerman. Hitler mencetak uang dari setiap jasa dan barang yang dihasilkan oleh orang-orang jerman, sehingga uang kembali berputar dan menciptakan lapangan kerja yang baru. Sementara untuk mendapatkan barang-barang impor Hitler melakukannya dengan cara menukarkan alat-alat teknologi hasil karya orang Jerman. Dan bisa dibilang bahwa Revolusi teknologi Jerman juga terjadi pada masa-masa ini. Bayangkan dampak dari sistem ini, selain menggerakan sistem ekonomi, Hitler juga mampu menggerakan inovasi dalam teknologi.
 Visi Hitler pada sistem keuangan seperti ini sebenarnya sangat indah, namun menurut Hitler agar cara ini berhasil dia harus  menguasai seluruh eropa agar sistem yang lama bisa ditumbangkan. Seperti cara Kaisar Qin dahulu, dia harus berperang dulu untuk menyatukan seluruh dataran tiongkok. Dan yang menjadi spesifik dari Hitler adalah kacamata yang dia gunakan terhadap kalangan tertentu, khususnya Yahudi yang menurutnya adalah akar dari sistem ekonomi riba. Memang benar, Hitler memang benar orang Yahudilah yang pertama kali membuat sistem ini mendunia, tapi Hitler jika anda ingin menumpas setiap orang yang menggunakan sistem ini, berarti anda juga harus ditumpas, karna mau tidak mau faktanya adalah sistem riba sudah diterapkan jauh sebelum Yahudi mendapat hak istimewa sebagai pilihan Tuhan. Baik dari bangsa Viking, Nordik, Inggris, Roma, Arab, Persia, Media, Arya, Mesir, Etiopia dan begitu banyak bangsa di dunia ini.
So, menurut aku kita harus menggunakan sistem ekonomi seperti Hitler. Meskipun sistem ini kembali memiliki kelemahan terbesarnya, yaitu Manusia. Dimana setiap manusia ingin mendapatkan kekuasaan, kedudukan dan kekayaan yang lebih dari orang lain. Terima kasih sudah membaca. Hope you like.

Jumat, 01 Juni 2012

Knowing Your Money


Posting hari ini aku persembahkan untuk beberapa sarjana ekonomi yang aku kenal.
Pada postingan kali ini kita bicara tentang sesuatu yang sangat sensitif namun tidak terlalu tabu untuk dibicarakan yaitu UANG. Tahukah kalian bagaimana uang bisa beredar di tangan kita? Jawabannya hanya satu yaitu HUTANG.
Marilah kita melihat ke belakang sejenak mengenai sejarah uang. Dahulu kala orang melakukan barter untuk memenhi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun kemudian segala sesuatu menjadi rumit ketika semakin banyaknya jumlah manusia dan kebutuhannya. Dimana rasa adil akan sistem barter tersebut sangat terbatas. Oleh karna itu munculah seorang yang melihat peluang untuk mengambil keuntungan dari itu semua. Siapakah orang itu? Itulah pendiri bankir mula-mula.
Dahulu kala seorang tukang emas memberikan sebuah solusi kepada raja dalam masalah transaksi ekonomi yang dihadapi kerajaannya. Si tukang emas berhasil meyakinkan sang raja dan masyarakat bahwa di dalam emas dan perak terdapat nilai yang sangat berharga, yang dapat menjadi nilai tukar yang baku terhadap barang apapun. Ini tentu adalah sebuah solusi yang baik bahkan untuk kita saat ini, tapi yang terjadi selanjutnya  membuat segala sesuatu menjadi sangat-sangat buruk.
Sang tukang emas tentu tidak akan memberikan emas-emasnya secara cuma-cuma, begitu juga dalam pikiran raja dan masyarakat. Tapi kemudian hal yang tak terduga terjadi sang tukang emas rela meminjamkan koin-koin emas yang dibuat olehnya dengan sebuah syarat yang akan mengubah seluruh tatanan ekonomi dasar. Sang tukang emas mengajukan syarat bahwa setiap 10 koin emas yang dipinjam harus dikembalikan lagi setahun mendatang beserta bunganya sebanyak 1 koin.  Memberatkan? Tentu tidak menurut rakyat. Apa yang menjadi ketidaktahuan mereka adalah jumlah koin yang diedarkan hanyalah sebanyak apa yang mereka minta. Dengan kata lain, jika hanya ada sepuluh orang dalam kerajaan tersebut, dan masing-masing dari mereka meminta 10 koin emas, maka sang tukang emas hanya akan membuat 100 keping emas. Permasalahannya adalah ketika orang-orang tersebut akan mengembalikan koin emas mereka, mereka harus mengembalikan juga bunga sebesar 1 koin emas yang tidak pernah dibuat oleh sang tukang emas.
Tentu anda berpikir, kalau begitu tambang saja emas lalu buat lagi koin emasnya. Disinilah si tukang emas mendapat dukungan dari kerajaan bahwa hanya koin yang dibuat oleh dirinyalah yang digunakan sebagai alat tukar yang sah. Dan setiap emas yang belum diolah menjadi koin harus diserahkan pada nya dengan imbalan koin emas yang nilainya lebih rendah dari logam mulia tersebut.
Lalu bagaimana caranya orang-orang bisa membayar hutangnya? Sementara jumlah koin yang beredar dimasyarakat adalah tetap. Itulah mekanisme keuangan global yang tercipta sekarang, setiap orang pasti akan membutuhkan uang, baik uang kertas ataupun logam, dan tidak ada tempat lain selain bank. Bagaimana cara bank mengeluarkan uang, yaitu dengan cara memberi hutang pada orang yang membutuhkan plus dengan bunganya. Hal ini menjadi lingkaran yang tidak terhenti. Orang-orang harus terus berhutang pada bankir agar suplai uang tetap ada. Orang-orangpun harus menaikan komoditas yang dijualnya untuk mendapatkan margin yang nanti akan menutupi hutang berikut bunganya, sementara ada orang lain yang akan mengalami defisit dalam keuangannya. Dan karna orang yang defisit tadi tidak dapat membayar hutangnya, maka agunannya diambil oleh bank atau si tukang emas. Mungkin rumah, mungkin sapi, mungkin kambing. Jangan berharap hutang anda akan dihapuskan, karna dalam sistem ini hutang adalah hutang.  Wow, cara yang gampang untuk meraih kerja keras orang lain.
Nah, para pembaca yang budiman. Sudah saatnya anda menjadi orang yang lebih bijak dalam menggunakan uang, pertama-tama anda harus mengenal dulu apa yang anda sebut dengan uang itu. Saya berharap postingan saya bisa sedikit membantu pengenalan anda akan uang. Di postingan untuk rubrik “ekonomi” selanjutnya akan saya bahas mengenai hal-hal yang lebih dalam tentang sistem uang yang sekarang tengah berlangsung di dunia ini. Yang menyebabkan krisis tak bertepi sejak 2008 kemarin.
At last but not least semua postingan saya masih kurang dari sempurna, begitu juga dengan ilmu yang saya miliki dlam kehidupan ini. Oleh karna itu kita harus terus belajar dan menggali semua yang ada di hidup ini sebagai persiapan kita menghadap Sang Pencipta.
Coz we’re living in University Of Life.
Bersambung…

Selasa, 22 Mei 2012

Know Your Self


Manusia, mahluk paling kompleks di muka bumi ini. Bukan dari struktur badannya melainkan dari mekanisme hidupnya. Oleh karna dalam hukum manusia selalu ada “sebab” dari sebuah “akibat”, maka tentu ada sebuah alasan mengapa sampai hidup kita menjadi begitu kompleks. Dan jawabannya adalah “JIWA”.
Jiwa? Apa itu jiwa? Jawabannya lumayan rumit juga. Jiwa adalah tempat dimana semua hasrat dari keinginanmu bermula, bagian dari dirimu yang bisa merasakan emosi, juga bagian yang membuat dirimu dapat mengerti arti dari konsekuensi, atau dalam kata lain pikiran. Jika disederhanakan maka jiwa adalah tempat dimana pikiran, perasaan dan keinginan dirimu hidup.
Jiwa merupakan esensi kehidupan yang paling besar dalam kehidupan manusia, tanpanya manusia gak hidup sama sekali, atau bisa dibilang tanpa jiwa kita hanyalah seonggok daging dan tulang.
Bagian pertama dari jiwa adalah pikiran. Saya tidak menyebutnya sebagai akal, karna akal merupakan bagian dari pikiran tapi bukan keseluruhan dari pikiran itu sendiri. Pikiran merupakan prosesor yang mengelola semua sebab dan akibat yang terjadi dalam kehidupan kita. Dan kalian tahu, inilah yang membuat kita berbeda dengan semua mahluk hidup yang ada di muka bumi ini. Dan inilah yang membuat semua kerumitan dimulai. Dengan akal yang terdapat dalam pikiran, kita memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan kita. Dan dengan logika kita memproses akibat dari digunakannya akal kita. Dan terkadang kita tidak menggunakan logika sebaik kita menggunakan akal kita. Lalu apa yang menjadi masalahnya? Untuk itu kita masuk ke bagian kedua dari jiwa kita yaitu keinginan.
Keinginan atau lebih pasnya disebut sebagai hasrat, karna kata itu yang saya temukan di kamus untuk arti kata dari “desire”. Hal yang satu inilah yang terkadang membuat kita manusia menggunakan akal kita lebih daripada kapasitas kita sebagai seorang manusia. Coba kita lihat kembali semua sejarah peradaban manusia, semenjak awal berdirinya hingga masa kehancurannya. Semua itu disebabkan oleh keinginan kita manusia yang sangat ingin dipenuhi. Dengan apakah sebuah peradaban dibangun? Dengan sebuah hasrat kolektif untuk mengembangkan sebuah komunitas dan kebudayaan yang pada akhirnya akan memuaskan hasrat masing-masing dari anggota komunitasnya  untuk menjadi apa yang dia inginkan. Baik itu dari segi ekonomi, kekuatan ataupun kekuasaan. Lalu apakah yang menghancurkannya? Hasrat juga dimana tercipta sebuah persaingan untuk memuaskan keinginannya dalam memiliki sesuatu lebih daripada yang seharusnya bisa dia miliki.
Tunggu sebentar, apakah yang ku maksudkan itu adalah “ambisi”? Karna menurut beberapa orang hasrat itu berbeda dengan ambisi. Apa yang salah dengan ambisi kalau begitu? Tidak ada salahnya dengan memiliki ambisi, tidak mungkin sebuah peradaban bisa hancur hanya karna ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih kalau memang dia layak mendapatkannya. Dan apa yang kalian pikirkan itu juga benar, namun hal terakhir inilah yang membuat segala sesuatunya berubah.
Perasaan! Inilah yang menjadi dasar dari semua kompleksitas yang ada di muka bumi ini. Terutama dalam kehidupan manusia. Perasaan lah tempat dimana suara kebajikan dan kejahatan bertemu dan bertarung mati-matian hanya untuk mendapatkan kuasa atas keinginan dan pikiran kita semua. Kejahatan sering sekali memenangkan pertarungan ini meski sering diikuti dengan perasaan menyesal yang disuarakan oleh kebajikan karna kita memilikinya sebagai pihak yang lembut, namun pada saat yang bersamaan pihak kejahatan akan mengeluarkan argumen-argumen yang membuat kita dapat memaafkan dan melupakan kesalahan yang terjadi, malahan bisa membuat logika kita membenarkan apa yang menjadi kesalahan kita. Lucu? Aku tidak anggap itu lucu sama sekali, itu “Tragis”. Namun, tidak selamanya keinginan dan pikiran kita dikuasai oleh kejahatan, tidak jarang juga kebaikan menang. Dan dari situlah sebuah sistem kemanusiaan dibangun. Harus kita akui ada banyak pemimpin peradaban di dunia, beberapa dari mereka adalah yang bijaksana dan beberapa yang lainnya cukup jahat untuk membuat dirimu berharap tidak hidup pada saat mereka berkuasa.
Now, what make it complicated? Seperti yang aku katakan tadi dunia ini kompleks karna adanya poin paling akhir yaitu perasaan, tempat dimana semua perbedaan bermula tentang bagian mana yang lebih dominan dalam hatimu, dan itu membuat pikiran dan keinginanmu sama seperti siapa yang menang dalam hatimu. Jadi apakah dunia hanya terbagi atas hitam dan putih? Jawabanku tidak sama sekali, karna kita adalah manusia, mahluk yang bisa melakukan kejahatan lebih daripada penguasa neraka, yang pada saat bersamaan juga bisa menunjukan kebaikan lebih dari apa yang surga pernah berikan. Hidup kita penuh dengan warna, ada yang mencolok, ada yang tenggelam, semua berasal dari hati kita. Lalu apa tujuan dari tulisanku kali ini? Tentu aku tidak menulis ini hanya sebagai naskah yang menggantung, walau terlihat seperti itu. Tapi ini hanyalah sebuah naskah pembukaan bagi kita setiap manusia untuk bisa mengenal diri kita masing-masing, dan terlebih lagi mengenal kehidupan lebih baik lagi. See you in next post, yang pasti akan lebih seru lagi! Adios